Fariz RM

Fariz RM Kembali Terjerat Kasus Penyalahgunaan Narkotika

Fariz RM Atau Di Kenal Dengan Fariz Rustam Munaf Merupakan Salah Satu Ikon Musik Pop Indonesia Yang Kiprahnya Telah Melintasi Beberapa Dekade. Lahir pada 5 Januari 1959 di Jakarta, Fariz di kenal luas sebagai musisi serba bisa: penyanyi, pencipta lagu, produser. Hingga pemain multi-instrumen. Ia adalah sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan musik pop, jazz, dan fusion di Indonesia. Khususnya pada era 1980-an dan 1990-an.

Karier Fariz RM mencuat lewat lagu legendaris berjudul “Sakura” yang di rilis pada tahun 1980. Lagu tersebut langsung mencuri perhatian publik berkat lirik puitis, aransemen yang inovatif. Serta suara khas Fariz yang lembut namun kuat. Sejak saat itu, Fariz menjadi simbol dari musik pop progresif Indonesia yang berpadu dengan unsur elektronik dan jazz. Albumnya seperti Sakura, Panggung Perak, dan Fashionova di anggap sebagai karya monumental dalam dunia musik tanah air.

Fariz di kenal tidak hanya karena suaranya, tetapi juga karena kemampuannya menciptakan lagu untuk musisi lain. Ia telah bekerja sama dengan banyak artis ternama seperti Vina Panduwinata, Chrisye, dan Nicky Astria. Sebagai komposer, Fariz sangat dihormati atas kemampuan musikalitasnya yang unik dan sarat dengan nuansa internasional, menjadikannya pelopor dalam penggunaan teknologi musik digital di Indonesia.

Meski telah melewati pasang surut dalam kehidupan pribadinya, Fariz tetap aktif bermusik. Ia sering tampil di berbagai panggung nostalgia dan festival musik, menunjukkan bahwa karya-karyanya masih dicintai lintas generasi. Lagu-lagu klasiknya pun kembali viral di platform digital seperti YouTube dan Spotify.

Fariz RM bukan hanya seorang musisi, tapi juga simbol dari semangat eksplorasi dan dedikasi terhadap seni. Dengan karya yang abadi dan pengaruh yang luas, Fariz telah menorehkan namanya sebagai legenda sejati dalam peta musik Indonesia.

Puncak Awal Kariernya Terjadi Ketika Merilis Album Solo Bertajuk “Sakura” Pada Tahun 1980

Karir Fariz di mulai di panggung musik Indonesia pada akhir 1970-an. Lahir pada 5 Januari 1959 di Jakarta, Fariz tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kreativitas. Ia mulai dikenal publik saat tampil sebagai pemain drum dan keyboard dalam beberapa proyek band, termasuk bersama Symphony dan WOW — grup-grup eksperimental yang aktif di masa itu.

Puncak Awal Kariernya Terjadi Ketika Merilis Album Solo Bertajuk “Sakura” Pada Tahun 1980. Lagu berjudul sama langsung melejit dan menjadi salah satu karya klasik paling ikonik dalam sejarah musik pop Indonesia. Album tersebut mencerminkan gaya khas Fariz yang unik: memadukan unsur pop progresif, jazz, new wave, dan elektronik, sebuah gaya yang kala itu masih sangat jarang ditemui di Tanah Air.

Kesuksesan “Sakura” membuka jalan bagi album-album berikutnya seperti Panggung Perak (1981), Fashionova (1984), hingga Musik Rasta (1985). Ia juga menciptakan banyak lagu untuk penyanyi lain, seperti Vina Panduwinata dan Chrisye. Kolaborasi Fariz RM dengan musisi-musisi top Indonesia memperkuat reputasinya sebagai komposer dan produser kelas atas.

Fariz di kenal sebagai pelopor penggunaan synthesizer dan komputer musik di Indonesia, menjadikannya salah satu musisi yang membawa teknologi musik modern ke dalam industri musik lokal. Ia bukan hanya vokalis, tapi juga pemain multi-instrumen yang menguasai drum, gitar, keyboard, hingga flute.

Meski sempat mengalami kendala pribadi dan hukum di awal 2000-an, Fariz tetap kembali ke panggung musik dengan semangat yang kuat. Ia aktif di berbagai festival nostalgia dan konser reuni, serta karyanya kembali di kenal generasi muda berkat platform streaming digital.

Secara keseluruhan, karir Fariz RM merepresentasikan konsistensi, eksperimen musikal, dan keberanian untuk berbeda. Yang membuatnya tetap relevan selama lebih dari 40 tahun di dunia musik Indonesia.

Fariz RM Juga Pernah Tersandung Sejumlah Kontroversi

Meski di kenal luas sebagai musisi jenius yang memberi warna tersendiri dalam musik pop Indonesia. Fariz RM Juga Pernah Tersandung Sejumlah Kontroversi yang cukup mencoreng citranya di mata publik.

Salah satu kontroversi paling besar terjadi pada tahun 2007, ketika Fariz RM di tangkap oleh pihak kepolisian karena kedapatan menyimpan narkoba jenis ganja di kediamannya. Kasus ini sontak menghebohkan publik karena saat itu Fariz masih aktif bermusik dan sering tampil di berbagai acara televisi serta konser nostalgia. Ia kemudian di jatuhi hukuman 7 bulan penjara, namun kasus ini menjadi peringatan keras akan dampak narkoba terhadap figur publik dan seniman.

Kontroversi serupa kembali muncul pada Desember 2015, ketika Fariz RM kembali di tangkap oleh pihak kepolisian atas kasus penyalahgunaan narkoba, kali ini melibatkan narkoba jenis ganja dan sabu. Ia di tangkap di rumahnya di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Penangkapan kedua ini mengecewakan banyak pihak, terutama penggemar yang telah menaruh harapan besar akan kebangkitannya pasca kasus sebelumnya.

Meski begitu, Fariz RM menjalani proses hukum dengan cukup kooperatif. Ia bahkan mengakui kesalahan dan mengungkapkan bahwa tekanan psikologis dan kesepian menjadi faktor dirinya kembali terjerumus. Setelah menyelesaikan masa hukumannya, Fariz kembali menunjukkan tekad untuk bangkit dengan tampil dalam konser-konser dan program musik televisi, serta tetap aktif di media sosial.

Kontroversi yang melibatkan Fariz RM memang menyisakan noda dalam perjalanan kariernya. Namun, banyak pihak juga mengapresiasi keterbukaannya dalam mengakui kesalahan dan perjuangannya untuk pulih. Ia menjadi contoh bahwa bahkan seniman besar pun bisa mengalami keterpurukan, namun juga memiliki kesempatan untuk bangkit dan menebusnya dengan karya.

Meski sempat jatuh, Fariz RM tetap di kenang sebagai musisi dengan kontribusi besar bagi musik Indonesia, di tengah segala dinamika pribadi yang ia hadapi.

Fariz RM Kembali Menjadi Sorotan Publik Setelah Di Tangkap Oleh Polisi Terkait Dugaan Penyalahgunaan Narkotika

Pada Februari 2025, musisi legendaris Fariz RM Kembali Menjadi Sorotan Publik Setelah Di Tangkap Oleh Polisi Terkait Dugaan Penyalahgunaan Narkotika. Ini merupakan kali keempat ia terjerat kasus narkoba sejak 2007, setelah sebelumnya pernah ditangkap pada 2007, 2015, dan 2018.

Kasus terbaru bermula dari penangkapan tersangka ADK di kawasan Kemayoran, Jakarta Utara, pada 17 Februari 2025, yang membawa barang bukti ganja dan sabu. Dari pengembangan itulah polisi kemudian menangkap Fariz RM di Bandung pada keesokan harinya. Ia di tetapkan sebagai tersangka setelah mengaku memesan barang haram tersebut untuk konsumsi pribadi.

Dalam penangkapan tersebut, polisi menyita barang bukti berupa sabu seberat 0,89 gram dan ganja 7,4 gram. Tes urine menunjukkan Fariz dan ADK positif amfetamin dan metamfetamin. ADK mengakui di bayar sekitar Rp 100–200 ribu per pembelian atas perintah Fariz, yang telah terlibat dalam empat kasus penggunaan narkoba selama ini.

Penangkapan Fariz RM di Bandung sempat terekam dalam video berdurasi sekitar 29 detik. Dalam rekaman tersebut, terlihat petugas berpakaian preman menghadang Fariz di area parkiran travel, memintanya kooperatif, lalu membawanya ke kantor polisi. Ia sempat menyatakan kebingungan dan tidak tahu alasan penangkapan sambil bertanya “Pak, saya nggak tahu apa-apa”.

Setelah di tetapkan sebagai tersangka, Fariz menjalani pemeriksaan intensif di Polres Metro Jakarta Selatan, di bawah penyelidikan oleh Satres Narkoba. Pihak kepolisian juga masih mendalami apakah Fariz akan di perintahkan mengikuti program rehabilitasi sesuai ketentuan, mengingat ini adalah kasus berulang keempat kali. Meski belum ada keputusan final soal rehabilitasi atau hukuman formal hingga Juli 2025.

Secara keseluruhan, kasus ini mencerminkan luka lama yang terus menghantui reputasi Fariz sebagai musisi konsisten dan kreatif. Meski memiliki karya besar dan warisan musik yang di hormati, jejak penyalahgunaan narkoba berkali-kali telah merusak citra dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai proses pemulihan dan rehabilitasi yang mungkin ia jalani ke depannya Fariz RM.